Kita tak sadar hidup dengan segunung sampah yang menumpuk di kelopak mata maya ini. Dan tumpukan sampah itu bercampur aduk dengan berbagai jenis bangkai. Dari bangkai asa yang telah gagal maupun korban kericuhan pola pikir tak menentu.
Bedanya bangkai manusia dengan yang lain, biasanya dia harus dikerumuni dan di upload sana-sini dulu baru kemudian disemayamkan. Bahkan makin banyak bangkai-bangkai berserakan digunakan untuk mengais interaksi meskipun tak lama juga hilang. Mungkin memang bangkai manusia tidak boleh mecemari pemandangan, meskipun tabiatnya boleh.
Kemudian kebiasaan mengadaptasi semuanya menjadi sebuah rasa nyaman seolah memang demikianlah idealnya. Tapi bagaimanapun hal ini sering mereka sebut bahagia dan begitu kuat mereka yakini. Ingat sebuah pepatah:
Witing Tresna Jalaran Saka Kulina, hanya karena itu yang ada
Dan, betapa hebatnya bisa berbangga sebagai makhluk paling sempurna. Namun tanpa sadar isi lumbungnya hanyut terbawa arus ke negeri antah berantah yang membuat tanah yang mereka pijak kehilangan iner greget, sehingga untuk melacurkan diripun harus dengan membanting harga. Ataukah tak ada lagi harga yang labih pantas?
Hingga saat mata harus terjaga, dikala laptop shut down dan hape-hape tertindih pingsan. Dan sampah-sampah itu beranjak dari kasur tempat mereka menjelma menjadi pertapa. Dari kursi malas tempat mereka menjelma menjadi dewa dewi. Atau dari mana saja dan di kolong-kolong apapun. Mereka berada dalam kotak sama yang mampu menjadikan mereka apa saja sesuka jari mengetuk. Iya sama, seperti kardus tv Spongebob tempat mereka berselancar.
Ingat saat Squidward yang secara diam-diam mencuri memasuki kardus itu? Hanya karena iri betapa bahagianya melihat pongebob dan patrick saat berada di dalamnya, sementara dia kesulitan pada awalnya. Tapi sayangnya, Squidward waktu itu bernasip lain karena dia terlalu hanyut di dalamnya hingga tak sadar kalau kardus yang dikendarai ternyata telah berada di tempat pembuangan akhir. Ya, truk sampah telah membawanya kesana.
Sama seperti saat bumi ini diciptakan kemudian berevolusi lalu berdiri industri kebahagiaan dan tercemar. Dan mereka justru keasikan berada dalam yang euforia itu. Asyik menggemakan hal-hal kecil hingga terdengar memenuhi seluruh gelembung, agar terdengar besar. Namun tanpa menyadari bahwa orang-orang yang merdeka diluar gelembung itu lebih bisa tertawa bebas memtertawakannya.

0 comments:
Post a Comment